Filsafat Sandal Jepit

Posted: June 28, 2009 in Ilmu dan Pengetahuan

Pakailah Sandal Jepitmu Sebelum Bersepatu

Adalah sebuah kenyataan hidup manakala periode awal dari tiap bentuk kehidupan dimulai dari sebuah kenestapaan. Ya, tangis pertama seorang bayi yang baru lahir adalah sebuah bukti bahwa ketika seorang manusia terlahir, ia dalam penderitaan yang sungguh luar biasa. Bagaimana tidak, seorang bayi yang lahir pada awalnya merasa nyaman di dalam rahim Ibunya. Ia merasa terlindungi dari segala kejatahan dunia. Ia merasa dirinyalah raja, sebab segala kebutuhan baik gizinya maupun kemanjaan secara psikologisnya tumbuh dari sana. Makanya jangan heran jika seorang perempuan hamil selalu identik dengan ngidam. Tapi begitu ia lahir, dia telah melihat sebuah bentuk kekejaman yang sangat luar biasa. Cahaya luar yang menyilaukan telah membuat matanya silau. Dan seorang bayi melihat sebuah pemandangan yang sungguh tak ia duga sebelumnya. Kucuran darah yang mengalir dari vagina Ibunya bersamaan lahirnya telah membuat ia begitu ketakutan.
Ya, penderitaanlah yang mengawali setiap periode kehidupan manusia. Sebagaimana Adam dan Hawa diturunkan ke dunia ini. Mereka dalam keadaan yang sama-sama terceraikan. Saling mencari dan saling berharap agar mereka segera dipertemukan dalam sebuah situasi yang sangat membahagiakan dan penuh haru biru.
Pakailah sandal jepitmu sebelum engkau mengenakan sepatu kulit yang mengkilap. Resapi betul enaknya memakai sandal jepit. Resapi betul betapa bahagianya ketika engkau bisa memakai sepasang sandal jepit. Sebab, begitu banyak orang yang kadang lupa akan enaknya mengenakan sandal jepit sebab sehelai kaus kaki telah membentengi pori-pori kulit untuk dapat merasakan ringannya debu dan merasakan tekstur kerikil yang begitu menggelikan dan nikmat.
Ingat, bersandal tidak selamanya tidak sopan. Tapi justru kerendahan hatilah yang dinampakkan oleh sepasang sandal jepit. Jangan pernah malu jika engkau tak bersepatu.

Sepatu Kulit Tidak Selamanya Melambangkan Orang Berduit

Umumnya, pemakai sepatu kulit selalu diidentikkan dengan orang-orang kantor yang berkantong tebal, memiliki setelan pakaian yang serba necis, rapi, berbahasa begitu tertata dan santun, berjalan dengan penuh gaya dan serba dihargai. Saya akan kemukakan kalau tidak selamanya sepatu kulit itu mengindikasikan hal-hal tersebut.
Banyak di antara orang-orang bersepatu kulit itu yang lebih kotor secara moralnya ketimbang seorang yang hanya bersandal jepit. Menurut saya, sepatu kulit yang mungkin harganya sepuluh atau duapuluh kali lipat dari harga sepasang sandal jepit tak ubahnya topeng belaka. Memang banyak pejabat yang bersepatu tapi banyak juga penjahat yang bersepatu. Jadi jumlah antara pejabat dan penjahat yang bersepatu mungkin hampir sama.

Lepaslah Sepatumu dan Bertelanjang Kakilah Engkau

Saya ingin sedikit berbagi cerita kepada Anda. Suatu ketika saya ditegur oleh seorang dosen gara-gara saya pakai sandal jepit ke kantor dosen.
Dosen bilang “Kamu mahasiswa?”
Saya mengiyakan.
Dosen tanya “Tahu aturannya kalau masuk kantor?”
Saya mengangguk.
“Lantas kenapa kamu langgar? Kan sudah ada ketentuan, kalau mau masuk kantor apalagi menghadap orang penting seperti ketua jurusan kan nggak sopan kalau kayak gini!”
Saya mendiamkan sebentar.
Si Dosen ini lantas membeberkan ke rekan sejawatnya, “Pak, Bu, coba lihat! Ada mahasiswa kok kayak gini. Apa ini yang dinamakan etika seorang mahasiswa?”
Saya masih terus diam.
“Mas, kamu mahasiswa jurusan apa?” seloroh yang lain.
Saya jawab, “Sastra, Pak.”
“Oh, pantes….”
“Apanya yang pantas, Bu?” tanya saya.
“Ya, mahasiswa Sastra itu kan selalu begini. Nggak taat aturan.” cibir dosen lain.
“Bu, Pak, maaf kalau saya terpaksa harus ikut ngomong. Sebenarnya dalam kamus budaya kita yang namanya sepatu itu kan nggak ada. Bukankah ini budaya asing (Belanda) yang sengaja dicekokkan pada bangsa kita untuk semakin terburai karena alasan prestise. Gengsi dan status sosial yang mencoba membuat manusia terpasung dalam kepalsuan. Jujur saya protes! Sebab, menghadap Tuhan saja kita harus menanggalkan sandal bahkan sepatu, masa cuma menghadap orang penting yang notabene hanya seorang manusia saja harus pakai sepatu?”
“Mas, ini kan kantor bukan masjid.”
“Justru karena kantor seharusnya ia lebih bisa menerima apa adanya keberadaan seorang anak manusia!” Lantang saya ngomong.
“Mas, Anda suidah saya peringatkan dengan baik-baik, tapi Anda justru ngotot. Apa Anda sudah bosan kuliah?”
“Ya! Sebab bangku kuliah sama bohongnya dengan sepatu yang Anda kenakan Pak.”
“Sudah Anda keluar sekarang. Sebelum saya adukan ke Rektor.”
“Lebih baik saya menghadap Rektor dan memohon agar beliau mengganti aturan yang sangat membuat orang miskin tersingkirkan ini. Bukankah fungsi dari sebuah lembaga pendidikan adalah mendidik masyarakatnya agar berbudi ketimbang pintar seperti Bapak dan Ibu sekalian?”
Brak! Bukupun dibanting. Seorang satpam menyeret saya dan esok hari sidang di ruang dosenpun berlangsung.
Innalillahiwainnalillah, sungguh betapa sakitnya hati saya manakala saya mengerti hal yang demikian. Sungguh susahnya menjadi seorang yang hanya mampu bersandal jepit.
Gambaran cerita ini hanya sekilas mengenai apa yang ingin saya protes mengenai eksistensi sepasang sandal jepit dan sepasang sepatu. Untuk itu lepaskanlah sepatumu sebelum engkau memahami apa arti hidup.

Comments
  1. tukang sendal says:

    salahnya sendiri.
    kalau dari awal bilang “saya tidak mampu bersepatu.”
    kan urusan selesai.
    kenapa mesti “nyolot”? itu sih bikin gara-gara namanya.

    hahahahahaha……….
    memang enak hidup tanpa kerumitan. dijawab apa yang perlu dijawab. sederhana sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s